Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2008

TUGAS

Teori Perbandingan Politik

Perbedaan Partai yang paling mendominasi di suatu Negara

antara Partai Golkar di Indonesia dan partai LDP di Jepang

Dominasi suatu partai dalam suatu Negara sangatlah menentukan bagaimana suatu Negara berjalan dalam menghadapi suatu situasi politik yang ada. Salah satunya Golkar, sebagai parpol yang sangat mendominasi perpolitikan Indonesia orde baru Golkar cukup berhasil dalam membangun ke – Dinasti – annya pada masa orde baru. Golkar sempat mengalami pasang surut beberapa saat sebelum orde baru jatuh, hal ini kemungkinan dikarenakan bagaimana gaya politik Golkar yang dirasa usang dalam menegakkan Demokrasi dan lebih mempertahankan tradisi orde baru. Saat itu sempat muncul prediksi akan nasib Golkar yang diminta untuk segera dibubarkan bersamaan dengan tumbangnya orde baru1, namun hal itu sepertinya hingga kini tak terjadi. LDP atau Liberal Democratic Party, sebagai partai paling berkuasa di Jepang sejak 1953. Sebagai parpol yang sangat mendominasi suatu Negara, peran suatu Ketua LDP sangatlah mempunyai kuasa penuh. Tidak hanya sebagai Ketua parpol tetapi secara tidak langsung ia telah memegang kekuasaan atas suatu Negara sebagai PM Jepang. Tradisi yang kuat akan parpol ini membuat perpolitikan LDP seakaan mendarah daging dan memberikan pola yang khas akan politik Jepang. Namun hal itu tidak menjadi sebuah pola yang membosankan akan politik Jepang bila prespektif ini dilihat dari parpol tersebut. Tetapi dominasi tetaplah dominasi dan akan terus berlangsung dan hanya mengalami perubahan yang tidak terlalu signifikan. Kembali pada Golkar, walaupun rezim orde baru telah berakhir, namun ini tidak mengantarkan Golkar menuju keterpurukan yang dalam hal ini terbukti saat Golkar mampu memberikan kontribusi yang berarti dalam pemilu 2004, walaupun sebelumnya Golkar dalam orde lama dianggap sebagai partai yang paling tidak Demokratis.

Secara garis besar Golkar dan LDP dapat disamakan. Keduanya sama – sama memerintah Negara dalam waktu yang cukup lama, Golkar dengan orde barunya dan LDP sejak 1955. baik Jepang maupun Indonesia tidak mempunyai lawan oposisi yang kuat akibatnya tidak ada parpol lain yang mampu melakukan kontrol yang memadai terhadap gerak partai yang mendominasi.2 Di Jepang kondisi akan tidak adannya oposisi yang kuat sangatlah terlihat sehingga hal ini menjadi celah yang sangat besar bai LDP dalam setiap “gerak – geriknya”. Hal itu terbukti saat LDP terlibat permainan politik uang dan skandal uang yang sangat besar ditubuh LDP. Melihat fakta – fakta tersebut sangatlah terlihat bagaimana suatu parpol mendominasi hampir seluruh sendi dan segi pemerintahan, dan hal itu tidak baik bagi pemerintahan yang dianggap demokratis.

Dalam sebuah partai terbentuknya beberapa Faksi – faksi adalah hal yang lumrah. Faksi – faksi yang bermunculan dalam suatu parpol yang mendominasi pemerintahan suatu Negara membawa warna masing – masing serta pola politik yang berbeda – beda satu dengan yang lain. Hal ini makin meluaskan tubuh parpol tak hanya dalam hal ideologi tetapi juga cara pandang parpol tersebut dalam menghadapi masalah – masalah yang terjadi. Namun adanya banyak faksi di dalam sebuah parpol yang mendominasi, membuat suatu parpol makin susah menentukan jalan keberlangsungan bagi parpol itu sendiri. Permasalahan seperti ketimpangan – ketimpangan, kecemburuan akan kedudukan di partai dan makin bercabang – cabangnya kepentingan para pemegang kekuasaan faksi adalah faktor yang paling nyata yang membuat suatu parpol dalam kehancuran yang mana hal ini dikarenakan permasalahan dalam tubuh parpol itu sendiri. Hal ini dapat terlihat tidak hanya dalam LDP tetapi dalam Golkar juga. Dalam LDP persinggungan faksi – faksi terjadi saat pemilihan ketua LDP dan juga saat membahas Undang – undang. Peristiwa akan persinggungan faksi ini terjadi sekitar tahun 1979 akhir, saat akan diadakannya pemilihan ketua LDP. Saat itu faksi Ohira dan Tanaka mencalonkan Ohira sebagai calon Ketua LDP sedangkan faksi Fukuda, Nakasone dan Miki mencalonkan Fukuda. Hal ini adalah peristiwa kali pertama dalam sejarah politik jepang, dikarenakan sebuah partai mengajukan 2 calon PM. Maka saat itu Ohira merangkul NLC – Kumpulan Liberal Baru, yakni partai kecil di Jepang untuk dapat membantu faksi Ohira meloloskan Ohira menjadi PM, dengan demikian Ohira menjadi PM Jepang.3 Peristiwa ini juga sering terjadi di tubuh partai Golkar selepas orde lama, seakan kehilangan kewibawaan dari ketuanya Soeharto ketimpangan dalam tubuh partai terjadi di Golkar.

Gagal dan Lambatnya Reformasi Partai

Golkar yang mulai terpuruk awal berdirinya masa reformasi berupaya mengangkat partai ini kembali dalam jalur yang dapat dibanggakan dan tidak mengusung permainan “kotor” dalam segala kesempatan. Ini terbukti pada pemilu Legislatif tahun 2004 bagaimana Golkar mulai bangkit dari keterpurukan dan berupaya merubah status yang telah melekat. Hasil Pemilu Legislatif 5 april 2004 menunjukan bagaimana Golkar bangkit, partai yang sebelumnya menjadi kendaraan utama Mantan Presiden Soeharto. Partai Golkar berhasil mengantongi 21 sekian % dan berhasil mengungguli partai yang sedang memerintah, PDI-P, yang hanya mengantongi sekitar 18 sekian %. Bila membandingkan Jepang dan Indonesia, Golkar terbilang sangat lambat menuju kebangkitan partai dimana LDP hanya membutuhkan 3 tahun setelahnya.

Namun demikian gagalnya reformasi dan jatuh bangunnya pemerintahan Jepang tidak berpengaruh pada masyarakat dan hal ini berbeda dengan di Indonesia. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) hanya terjadi di pemerintahan atas dan beberapa sendi Partai yang mana ini semua dipegang oleh pejabat atas. Sedangkan hal itu tidak terjadi di pusat – pusat lembaga kemasyarakatan Jepang yang mana lembaga ini masih tetap bersih dari politik – politik kotor dan tetap memiliki pengabdian besar akan masyarakat. Dan hal ini memberikan dampak yang baik bagi masyarakat Jepang yang tidak terkena imbas dari permainan politik yang kotor yang terjadi di “atas”. Peristiwa ini tidak terjadi di Indonesia. Reformasi telah terjadi tetapi tidak merubah semuanya dan seakan hanya berjalan kembali seperti biasa. Hal ini terjadi dikarenakan permainan politik yang tejadi di “atas” atau di pemerintahan yang telah melibatkan partai dalam hal ini Golkar, telah meluas hingga ke bagian pelayanan publik masyarakat. Ini menyebabkan bagaimana sikap – sikap permainan politik kotor telah dan terus mendarah daging dalam masyarakat dan semakin merusak sendi – sendi kemasyarakatan. Golkar sebagai partai paling mendominasi orde baru tidak serta merta berubah saat perubahan dari Orba ke Reformasi melainkan hanya berjalan dengan lambat, maka tidaklah heran apabila situasinya tidak berubah. Perubahan kepemimpinan dari Soeharto ke Habibie pun tidak membuat Golkar kehilangan taring namun dengan adanya Soeharto di belakang Habibie hal ini tetap membuat Golkar terus berjalan. Namun yang paling penting dari hal ini semua terlepas bagaimana kelanjutan nasib Golkar awal masa Reformasi, Reformasi telah meninggalkan momentum perubahan. Gerakan reformasi telah menghancurkan permainan monopoli Golkar yang menjadi kendaraan rezim militer yang otoriter, walaupun hal ini berjalan lambat. Perubahan juga terletak bagaimana lahirnya multipartai yang memungkinkan makin tersebarnya kekuasaan kedalam beberapa kekuatan politik hal ini wajib di pertahankan dalam pemerintahan agar terciptannya Check and Balance.

Setelah sempat beberapa waktu lalu LDP kalah dalam jumlah perolehan kursi di parlemen kini LDP makin kuat dengan serangkaian berbagai rencana. Namun yang paling ditakutkan dari semua ini adalah kembalinya perpecahan dalam faksi atau Habatsu serta permainan politik uang yang terjadi dalam partai. Namun sepertinya hal itu belum akan terjadi dalam waktu dekat ini. Ini terbukti dalam pemilihan Fukuda Yasuo yang diperkuat hampir 70 persen dari faksi – faksi dalam LDP menggantikan Abe. Tetapi seperti yang telah saya katakan diatas, bayang – bayang Fukuda akan kekuatan Faksi – faksi lama atau Habatsu yang dulu dikenal dengan politik uang, ditakutkan hal ini akan merubah kebijakan Fukuda. 4

1 Akbar Tanjung, “The Golkar Way, Survival Partai Golkar di Tengah Turbulensi Politik Era Transisi”, Jakarta, Gramedia PU, November 2007

2 Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia, “Inovasi reformasi”, 2004

3 Sayidiman Suryohadiprojo, “Manusia dan Masyarakat Jepang Dalam Perjoangan Hidup”, Jakarta, Penerbit Universitas Indonesia dan Pustaka Bradjaguna, 1982

4 www.kcm.com, Fukuda dan Masa Depan Politik Jepang”, Syahrur M Dwisusilo Pengajar Kajian Jepang, Universitas Airlangga; Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Iwate, Jepang, Kamis, 04 Oktober 2007

* Dilarang melakukan Embed atau membuat Direct link, atau mencantumkannya dalam artikel, makalah, atau tulisan baik yang bersifat edukasi, atau non-edukasi tanpa sepengetahuan Author.

Read Full Post »